Meski Ada Bantahan, Mui Tetap Sebut Astrazeneca Mengandung Babi, Tapi Boleh Digunakan » Solopos Com

Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia , ditemukan unsur babi dalam proses pembuatan vaksin COVID-19 AstraZeneca. LPPOM MUI, ujar Muti, mengirimkan dua orang Lead Auditor Bidang Obat dan Vaksin dengan bidang keahlian Biopreses Engineering dan Industrial Microbiolog. Setelah mereka melakukan kajian bahan dan proses pembuatan vaksin dari file di BPOM, mereka kemudian melakukan kajian dari publikasi ilmiah. Setelah itu, lanjut Muti, Auditor melakukan penelusuran media yang digunakan sesuai dengan temuan di publikasi ilmiah. Lalu, dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia, tidak semua proses pembuatan vaksin menggunakan tripsin babi. Karena enzim dari hewan babi harus benar-benar dibersihkan agar tak mengganggu proses pengolahan vaksin selanjutnya.

Vaksin kemudian dimurnikan untuk menghilangkan pecahan sel yang mengotori cairan vaksin. Lalu, partikelAdenovirus yang tidak berguna dibuang dengan memusingkan vaksin dalam alatcentrifuge. DNA yang dibawa oleh vaksin berisi instruksi genetik untuk vaksin Adenovirus, lengkap dengan kode protein SARS-CoV-2.

Vaksin Astrazeneca babi

” semua tahapan proses produksinya, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” sambungnya. Sebagai informasi, tripsin yang disebut MUI digunakan dalam proses pembuatan vaksin AstraZeneca, adalah getah perut yang dibawa oleh aliran darah ke pankreas, merupakan unsur yang penting dalam pencernaan. Selain pada tahap penyiapan inang, zat mengandung babi juga dipakai pada penyiapan bibit vaksin rekombinan. “Pada semua tahap proses produksi, vaksin vektor virus ini tidak menggunakan atau bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” jelasnya.

Kedua, adanya keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya terkait bahaya dan risiko fatal jika tidak dilakukan vaksinasi. Selanjutnya, dalam proses produksi vaksin AstraZeneca yang dilakukan Oxford-AstraZeneca, sel diperbanyak dan untuk melepaskannya dari pelat digunakan enzim TryPLE. Setelah itu, dilakukan proses pencucian, sentrifugal, dan penambahan medium DMEM, serta diinkubasi. Pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin COVID-19, mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia, baik di Indonesia maupun di tingkat world.

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta menarik terkait pemberhentian vaksin AstraZeneca. Seluruh vaksin COVID-19 AstraZeneca yang sudah dikirim pusat untuk masyarakat di DIY tak termasuk batch vaksin yang dihentikan distribusinya oleh Kemenkes. Penny mengatakan, vaksinasi Covid-19 tidak akan menurunkan angka kesakitan dan kematian yang disebabkan hal lain. Kesakitan dan kematian karena penyebab lainnya, kata dia, akan terus terjadi walaupun telah divaksinasi.

Nadia menjelaskan walau dalam prosesnya bersinggungan, vaksin AstraZeneca tetap bisa digunakan karena kedaruratan. Di dalam uji model ChAdox1, setelah divaksinasi,surface spike protein dari virus SAR-CoV-2 akan merangsang produksi antibodi sehingga menimbulkan perlindungan dari paparan virus tersebut. Platform vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca dengan kode AZD 1222 yang diproduksi dengan menggunakan adenovirus non-replicating sebagai vival vector antigen spike protein dari virus SARS-CoV-2.

Keempat, ada jaminan keamanan penggunaannya oleh pemerintah sesuai penjelasan yang disampaikan pada saat rapat Komisi Fatwa. Jakarta, Beritasatu.com- Astrazeneca menyatakan pada Minggu (21/3) bahwa vaksin Covid-19-nya tidak mengandung bahan turunan babi. Seperti dilaporkan Reuters, perusahaan membantah pernyataan di Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, bahwa obat tersebut melanggar hukum Islam.

Namun, fatwa MUI itu memperbolehkan vaksin AstraZeneca dipergunakan masyarakat secara luas. Ada keterangan dari ahli yang kompeten dan terpeceya tentang bahaya atau risiko fatal jika tidak segera dilakukan vaksinasi COVID-19. Disampaikan oleh Nadia, ia menyambut baik rekomendasi BPOM dan MUI yang memperbolehkan penggunaan vaksin Covid-19 dari AstraZeneca. Nadia mengatakan, pemerintah akan mulai mendistribusikan vaksin Covid-19 AstraZeneca di seluruh wilayah Indonesia mulai Senin pekan depan.

Dengan berdasarkan pada keterangan ahli kompeten terpercaya tentang adanya bahaya atau resiko jika tak dilakukan vaksinasi. Menyusul hal itu, Majelis Ulama Indonesia juga mengeluarkan fatwa atas vaksin AstraZeneca. Ternyata, dari hasil fatwa tersebut, vaksin AstraZeneca mengandung enzim babi. Aluicia Anita Artarini mengatakan bahwa vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca tidak mengandung tripsin hewani, melainkan tripsin enzim yang menyerupai jamur.

Dalam kurun 10 bulan, para ilmuwan di Oxford University, Inggris, berpacu melawan waktu untuk memformulasikan vaksin COVID-19 yang baru muncul di akhir 2019 lalu. Tahap pengembangan pertama diadakan pada Januari di Jenner Institute, yaitu merancang bentuk vaksin dari “mahkota” virus corona baru (SARS-CoV-2). Alasan keempat, adalah adanya jaminan keamanan penggunaanya untuk pemerintah sesuai dengan penggunaannya. Terkait keamanan ini, dibahas oleh BPOM dalam rapat komisi fatwa sebelumnya.